Jumat, 15 September 2017

Miom

Miom adalah pertumbuhan sel tumor di dalam atau di sekitar uterus (rahim) yang tidak bersifat kanker atau ganas. Miom dikenal juga dengan nama mioma, uteri fibroid, atau leiomioma. Miom berasal dari sel otot rahim yang mulai tumbuh secara abnormal. Pertumbuhan inilah yang akhirnya membentuk tumor jinak.
Sebagian wanita pernah memiliki miom dalam hidup mereka. Namun terkadang kondisi ini tidak diketahui oleh sebagian wanita yang mengalami karena tidak muncul gejala. Jika ada, gejala yang mungkin muncul akibat miom adalah:
  • Masa menstruasi menyakitkan atau berlebih.
  • Rasa sakit atau nyeri pada bagian perut atau punggung bawah.
  • Rasa tidak nyaman, bahkan sakit, saat berhubungan seksual.
  • Sering buang air kecil.
  • Mengalami konstipasi.
  • Keguguran, mengalami kemandulan, atau bermasalah pada masa kehamilan (sangat jarang terjadi).

Ukuran miom sangat bervariasi, ada yang sekecil biji dan ada juga yang berukuran besar hingga mengakibatkan rahim membesar. Dalam satu periode, miom yang muncul mungkin hanya satu, namun bisa juga muncul beberapa secara sekaligus.

Jenis miom yang ada dibedakan berdasarkan lokasi tumbuhnya miom, terbagi seperti berikut ini:
  • Fibroid intramural. Miom jenis ini tumbuh di antara jaringan otot rahim. Lokasi ini merupakan tempat yang paling umum terbentuknya miom.
  • Fibroid subserous. Miom yang tumbuh di bagian luar dinding rahim, ke rongga panggul. Jenis ini bisa tumbuh menjadi sangat besar.
  • Fibroid submucous. Miom ini tumbuh di lapisan otot bagian dalam dari dinding rahim. Jika sampai tumbuh, miom ini bisa menyebabkan pendarahan parah saat menstruasi dan komplikasi serius lainnya.
  • Fibroid pedunculated. Miom jenis ini tumbuh di batang kecil di dalam atau di luar rahim.

Penyebab Munculnya Miom

Hingga kini, penyebab kemunculan miom masih belum diketahui. Kemunculan kondisi ini dikaitkan dengan hormon estrogen (hormon reproduksi yang dihasilkan oleh ovarium). Biasanya miom muncul pada usia sekitar 16-50 tahun, saat kadar estrogen dalam diri wanita sedang tinggi-tinggnya. Setelah mengalami menopause, miom akan menyusut karena penurunan kadar estrogen. Satu dari tiga wanita memiliki miom pada usia yang sama, yaitu di antara usia 30-50 tahun.
Miom lebih sering muncul pada wanita dengan berat badan berlebih atau yang mengalami obesitas. Dengan meningkatnya berat tubuh, hormon estrogen di dalam tubuh juga akan meningkat. Selain itu, faktor keturunan juga berperan dalam kasus miom. Wanita dengan ibu dan saudara perempuan yang pernah mendapatkan miom akan cenderung memiliki miom.
Beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko munculnya miom adalah menstruasi yang dimulai terlalu dini, banyak mengonsumsi daging merah dibandingkan sayur-sayuran dan buah-buahan, dan kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Risiko seorang wanita mengalami miom akan menurun setelah melahirkan anak. Risiko itu akan semakin kecil jika memiliki lebih banyak anak.

Diagnosis Miom

Miom terkadang didiagnosis secara tidak disengaja ketika Anda melakukan pemeriksaan ginekologi, melakukan tes, atau pencitraan tertentu. Hal ini terjadi karena miom seringkali tidak menimbulkan gejala sama sekali.
Jika Anda mengalami beberapa gejala miom dan berlangsung cukup lama, segera cari tahu penyebabnya. Biasanya dokter akan menyarankan untuk menjalani pemindaian ultrasonografi (USG) untuk memastikan diagnosisnya atau mencari tahu penyebab kemunculan gejala yang Anda alami.

Pengobatan Miom

Miom yang tidak memunculkan gejala tertentu, biasanya tidak memerlukan pengobatan khusus. Biasanya setelah masa menopause, miom jenis ini akan menyusut atau bahkan menghilang tanpa menjalani pengobatan.
Pengobatan akan dilakukan pada miom yang menimbulkan gejala. Pengobatan ini berfungsi meringankan gejala yang muncul. Apabila pengobatan yang dilakukan tidak memiliki dampak yang efektif, pelaksanaan prosedur operasi perlu dilakukan.

Kenali 6 Warna Keputihan yang Berhubungan dengan Kesehatanmu

1. Jernih dan elastis. Keputihan seperti ni biasanya muncul setelah berakhirnya masa menstruasimu yang kemunculan awalnya berwarna agak pekat. Coba ambil cairan keputihan pakai jari, lalu regangkan di antara dua jari. Jika berwarna jernih dan elastis setelah direntangkan secara maksimal, itu tanda kalau kamu sedang mendekati masa ovulasi dan keputihan ini bersifat normal.


2. Warna putih. Munculnya keputihan macam ini biasanya sebelum dan setelah masa menstruasi. Namum, kamu patut waspada kalau cairan putih yang keluar disertai rasa gatal dan bau nggak sedap seperti amis, bisa jadi hal tersebut jadi tanda-tanda daerah kewanitaanmu mengalami infeksi jamur. Segera berkonsultasi ke dokter adalah langkah tepat.

3. Warna kuning. Kamu patut waspada apabila cairan keputihan yang keluar dari vaginamu berwarna kuning. Sebab, bisa saja ada organisme kuman yang tumbuh dan bersarang di sana, Biasanya, kuman-kuman masuk melalui hubungan seksual. Jika sudah begini, kamu juga perlu mewaspadai pula gejala infeksi gonorhoe, klamida, dan trichomonas. Bakteri jahat jenis mycoplasma hominis dan gardnerella vaginalis juga menjadi penyebab keputihan jenis ini.


4. Warna cokelat. Biasanya keputihan yang datang dengan warna coklat terjadi pada periode haid, kehamilan di awal, atau menopouse. Keputihan ini juga bisa jadi tanda penyakit pada vaginamu. Jika keputihan bersifat abnormal, misalnya disertai dengan rasa nyeri pinggang dan bokong dan bau tidak sedap, kamu patut waspadai mungkin ini tanda awal penyakit kanker serviks atau pelvis inflammatory disease.

5. Warna hijau. Jika cairan keputihan muncul dalam jumlah besar dan disertai aroma busuk juga nyeri pada organ kewanitaan, kamu wajib curiga kalau keputihan ini menjadi gejala infeksi organ reproduksi. Trichomonas vaginalis merupakan protozoa penyebab cairan keputihan menjadi berwarna kehijauan.Pada level keputiha yang parah, kamu akan mengalami rasa panas dan gatal di sekitar area kewanitaan. Penyebabnya adalah Nisseria gonorrhoe atau GO.

6. Warna abu-abu. Keputihan yang keluar dengan warna abu-abu disertai gatal, bau tidak sedap, dan bengkak kemerahan pada sekitar mulut vagina perlu dapat perhatian serius dari dokter. Sebab, bisa jadi disebabkan oleh bakteri berbahaya. Parahnya warna abu-abu diikuti dengan darah dan bersifat encer. Kemungkinan, kamu sedang mengalami kanker.

Apapun warna keputihan yang kamu alami, jika itu terlihat tidak wajar yang ditandai dengan bau atau rasa sakit, kamu bisa langsung menghubungi dokter kelamin untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Jika tidak, bisa saja keputihanmu itu menjadi bakal penyakit serius di kemudian hari. 

Kenapa Bisa Terjadi Sakit Perut Bagian Bawah?

Kenapa Bisa Terjadi Sakit Perut Bagian Bawah?

Anda pasti pernah merasakan sakit di bagian bawah perut, entah rasa sakit yang ringan, kram, atau terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum. Namun apakah Anda tahu penyebabnya?
Dalam ilmu medis, sakit perut bagian bawah kerap dideskripsikan sebagai nyeri panggul. Rasa sakit ini bisa menyerang pria maupun wanita, meski lebih umum ditemui pada wanita.

Sakit Perut Bagian Bawah pada Wanita

Sakit perut bagian bawah lebih sering terjadi pada wanita karena berhubungan dengan organ reproduksi kaum hawa, seperti vagina, ovarium, rahim, serviks, atau tuba falopi. Berikut ini kemungkinan penyebabnya:
  • Sakit perut akibat menstruasi.
  • Ovulasi.
  • Hamil di luar kandungan atau kehamilan ektopik.
  • Keguguran.
  • Penyakit radang panggul.
  • Kista ovarium atau gangguan lain pada ovarium.
  • Endometriosis.
  • Abrupsi plasenta atau gangguan lain pada plasenta saat hamil.
  • Fibroid.
  • Gangguan pada serviks seperti infeksi, radang, atau kanker.
  • Kanker rahim.
  • Radang saluran tuba atau salpingitis.

Sakit Perut Bagian Bawah pada Pria dan Wanita

Rasa sakit pada bagian bawah perut juga tidak melulu berkaitan dengan organ reproduksi. Rasa sakit juga bisa ditimbulkan karena adanya infeksi pada organ non-reproduksi, seperti tulang panggul, kandung kemih, atau usus besar. Karena alasan inilah, baik pria maupun wanita bisa merasakan sakit pada bagian bawah perut. Berikut ini kemungkinan penyebabnya:

Bagaimana Cara Mendiagnosisnya?

Agar bisa mengetahui penyebab pasti rasa sakit yang Anda derita, segera konsultasikan kepada dokter. Sebelum melakukan pemeriksaan fisik, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan terkait rasa sakit yang Anda rasakan. Beberapa contoh pertanyaan itu seperti:
  • Sudah berapa lama merasakan sakit pada bagian bawah perut?
  • Seperti apa rasa sakitnya?
  • Kapan rasa sakit kerap muncul? Apakah saat pagi, malam hari, sesudah makan, atau saat menstruasi?
  • Apakah rasa sakit turut menyerang bagian tubuh Anda yang lainnya, seperti pantat, selangkangan, pundak, atau punggung bawah?
  • Apakah Anda hamil?
Setelah itu dokter mungkin akan melanjutkan ke tahapan selanjutnya seperti tes darah, tes urine, tes tinja, tes pada vagina atau penis, atau tes kehamilan. Selain itu dokter juga mungkin akan melakukan pengecekan lain melalui prosedur laparoskopi, endoskopi atau pemeriksaan sistem pencernaan dengan kamera, histeroskopi atau pemeriksaan rahim dengan kamera, ultrasound, CT scan, dan X-ray.
Beberapa hari kemudian dokter akan memberikan hasil tes tersebut. Dari diagnosis, dokter bisa membantu Anda memilih langkah pengobatan yang sesuai. Ada sakit perut yang bisa ditangani oleh pengobatan ala rumahan atau mengonsumsi obat-obatan yang dijual bebas di pasaran. Tapi ada juga penyebab sakit perut bagian bawah yang harus ditangani khusus oleh tim medis, seperti pengobatan melalui jalan operasi.

PENYEBAB KANKER SERVIKS

Penyebab Kanker Serviks

Kanker serviks dimulai ketika sel-sel yang sehat mengalami mutasi genetik atau perubahan pada DNA. Mutasi genetik ini kemudian mengubah sel normal menjadi sel abnormal. Sel yang sehat akan tumbuh dan berkembang biak pada kecepatan tertentu, sedangkan sel kanker tumbuh dan berkembang biak tanpa terkendali.
Jumlah sel abnormal yang terus bertambah akan membentuk tumor. Sel kanker yang muncul kemudian menyerang jaringan di sekitarnya. Sel ini bisa melepaskan diri dari lokasi awal dan menyebar ke wilayah tubuh lainnya, proses ini disebut sebagai metastasis.

Kanker Serviks Akibat HPV atau Human papillomavirus

Ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan perempuan terkena kanker serviks. Tapi penelitian menemukan bahkan 99,7 persen kanker serviks disebabkan oleh HPV. HPV adalah satu golongan virus,di mana terdapat lebih dari 100 jenis HPV.
Virus HPV pada umumnya tersebar melalui hubungan seksual, di mana terjadi kontak langsung antara kulit kelamin, membran mukosa, atau pertukaran cairan tubuh, dan melalui seks oral. Setelah memulai hubungan seksual, diperkirakan terdapat 33 persen wanita akan terinfeksi HPV. Beberapa jenis HPV tidak menimbulkan gejala yang jelas, dan infeksi bisa hilang tanpa penanganan medis.
Namun terdapat jenis HPV lainnya yang bisa menyebabkan kutil pada alat kelamin.  Jenis HPV penyebab kutil kelamin ini tidak menyebabkan kanker serviks. Ada sekitar 15 jenis HPV yang berpotensi menyebabkan kanker serviks. Dua jenis yang paling umum adalah HPV 16 dan HPV 18. Jenis ini menjadi penyebab kanker serviks pada 70 persen wanita.
Jenis HPV yang berisiko tinggi dianggap mengandung materi genetik yang bisa dipindahkan dari sel virus ke dalam sel leher rahim. Materi ini akan mulai mengganggu kinerja sel, hingga akhirnya sel-sel serviks itu berkembang biak tanpa terkendali. Proses inilah yang menyebabkan munculnya tumor dan kemudian berubah menjadi kanker.
Belum ada obat yang diketahui bisa menyembuhkan infeksi HPV. Virus ini sendiri bisa tetap berada di dalam tubuh dengan atau tanpa penanganan. Tapi, kebanyakan infeksi HPV menghilang tanpa penanganan khusus dalam jangka waktu sekitar dua tahun. Namun, sebagai langkah berjaga-jaga, setiap wanita disarankan untuk menerima vaksinasi HPV untuk mencegah tertularnya jenis virus yang menyebabkan kanker.

Status Prakanker – Cervical Intraepithelial Neoplasia

Kanker serviks butuh bertahun-tahun untuk tumbuh dari sel sehat ke sel prakanker dan akhirnya sel kanker. Perubahan abnormal sel-sel sebelum kanker inilah yang dikenal dengan sebutan cervical intraepithelial neoplasia (CIN) atau sel prakanker. Perubahan sel akibat infeksi HPV menjadi CIN, hingga akhirnya menjadi kanker sangat lambat. Proses ini bisa terjadi dalam kurun waktu 10-20 tahun.
CIN adalah kondisi pertumbuhan sel abnormal sebelum kanker. Kondisi ini umumnya tidak mengancam kesehatan seseorang secara langsung, tapi berpotensi berubah menjadi kanker. Walau risiko sel-sel CIN berubah menjadi kanker tergolong kecil, dokterakan memantau atau menanganinya sebagai langkah pencegahan kanker serviks. Tujuan pap smear adalah mengidentifikasi tahap ini agar CIN ditangani sebelum sepenuhnya berubah menjadi kanker.
Tingkat perubahan sel abnormal bisa dibagi menurut tingkat keparahannya, yaitu:
  • CIN 1 - Kondisi ini terjadi saat perubahan pada sel-sel leher rahim masih sedikit atau tidak terlalu signifikan. Bisa ditangani atau dipantau secara berkala karena sel-sel pada tahap CIN 1 bisa berubah menjadi normal kembali tanpa penanganan medis.
  • CIN 2 – Terjadi perubahan yang lebih dari CIN 2; umumnya sel-sel abnormal diangkat oleh dokter.
  • CIN 3 - Pada tahap ini, perubahan sel sangat abnormal tapi belum bersifat kanker. Sel-sel CIN 3 akan diangkat oleh dokter.

Faktor yang Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Serviks

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko menderita kanker serviks antara lain:
  • Aktivitas seksual terlalu dini: Melakukan hubungan seksual pada umur terlalu dini akan meningkatkan risiko terinfeksi HPV.
  • Berganti-ganti pasangan seksual: Memiliki banyak pasangan seksual akan meningkatkan risiko terinfeksi HPV.
  • Merokok: Wanita yang merokok berisiko dua kali lipat. Ini mungkin disebabkan oleh bahan kimia berbahaya dari tembakau yang muncul di leher rahim.
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah: Kondisi ini mungkin dikarenakan mengonsumsi obat tertentu seperti imunosupresan. Obat ini digunakan agar tubuh tidak menolak donor organ dari orang lain atau karena menderita HIV/AIDS.
  • Melahirkan anak: Makin banyak anak yang dilahirkan seorang wanita, maka risiko mengidap kanker serviks semakin tinggi. Wanita yang punya tiga anak, tiga kali lebih berisiko terkena kanker serviks daripada wanita yang tidak punya anak sama sekali. Diperkirakan bahwa perubahan hormon saat sedang hamil membuat leher rahim lebih rentan terserang HPV.
  • Minum pil kontrasepsi atau KB lebih dari lima tahun: Mengonsumsi pil KB cukup lama akan meningkatkan risiko dua kali lipat mengalami kanker serviks. Meski hal ini masih belum jelas alasannya.

Cara Penyebaran Kanker Serviks

Jika kanker serviks tidak didiagnosis dan tidak ditangani, perlahan-lahan sel kanker akan keluar dari leher rahim dan menyebar ke organ serta jaringan di sekitarnya. Kanker bisa menyebar ke vagina dan otot yang menopang tulang panggul. Sel kanker juga bisa menyebar ke tubuh bagian atas. Kondisi ini akan menghalangi saluran yang mengalir dari ginjal ke kandung kemih atau sering disebut sebagai ureter.
Kanker bisa menyebar ke kandung kemih, rektum, dan akhirnya sampai ke hati, tulang, dan paru-paru. Sel kanker ini juga bisa menyebar ke sistem limfatik. Sistem limfatik terdiri dari serangkaian nodus dan saluran yang menjalar ke seluruh tubuh dengan cara yang sama seperti sistem peredaran darah.
Nodus limfa menghasilkan banyak sel khusus yang dibutuhkan oleh sistem kekebalan tubuh. Jika Anda terinfeksi, nodus di leher atau di bawah ketiak akan membengkak. Pada beberapa kanker serviks stadium awal, nodus limfa yang dekat dengan leher rahim mengandung sel kanker. Dan pada beberapa kanker serviks stadium akhir, nodus limfa di dada dan perut juga bisa terinfeksi kanker.